Ilmu ekonomi merupakan salah satu cabang studi yang mempelajari tentang perilaku manusia. Dalam kapitalisme, studi yang dimaksud disini yaitu tentang manusia yang memiliki suatu perilaku dalam memnuhi segala kebutuhan, baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Manusia dalam memenuhi suatu kebutuhan harus melakukan pilihan. Pilihan tersebut dapat dilakukan oleh manusia secara rasionalitas.[1] 

Islam merupakan suatu sisitem maupun jalan hidup yang utuh dan terpadu (a comprehensive way of life). Islam memberikan tuntunan yang dinamis dan lugas terhadap semua aspek dalam kehidupan, termasuk dalam sektor bisnis, keuangan dan muamalah.[2] Sangatlah tidak konsisten jika kita hanya menerapkan syariat Islam pada sebagian sisi saja dari kehidupan ini, misal dalam acara pernikahan, ritual kelahiran bayi, pemakaman mayat,   namun Islam kita tinggalkan ketika berurusan dengan segala hal yang berkaitan dengan ekonomi.

Berbicara tentang rasionalitas, tidak terlepas dari pola pikir manusia. Rasionalitas sendiri memiliki banyak arti yang dari keseluruhan memiliki makna yang relatif sama, baik dari sudut pandang masyarakat umum, maupun dari sudut pandang filsafat, keilmuan psikologi dan ekonomika.[3] Sebagai contoh ketika kita berharap agar seseorang dapat bertindak secara rasional, maka yang dimaksudkan adalah orang lain tersebut bertindak berdasarkan keputusan yang sudah difikirkan secara matang, dan telah dilandasi oleh informasi yang akurat dan objektif. Dalam hal ini, yang dimaksud pemikiran matang adalah seseorang tersebut telah mempertimbangkan dengan baik tujuan apa yang akan dicapai dan keputusan dilandasi oleh niatan untuk mencapai tujuan tersebut dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Dari pemaparan tersebut dapat dikatakan bahwa rasionalitas merupakan suatu ukuran yang bersifat normatif yang digunakan ketika kita mengevaluasi keyakinan dan keputusan yang diambil seseorang dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang dimilikinya.[4]  

Sedangkan kebenaran menurut Purwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menjelaskah bahwa kebenaran iyalah; 1). Keadaan yang benar (sesuai dengan keadaan atau cocok dengan kejadian sesungguhnya). Misalnya kebenaran berita ini masih diragukan, kita harus mengeceknya serta berani membela kebenaran dan keadailan. 2).Sesuatu yang benar (sungguh-sungguh ada dan betul-betul demikian adanya). 3).Kejujuran, kelurusan hati, misalnya tidak ada seorangpun sanksi akan kebaikan dan kebenaran hatimu.[5]

Dengan demikian rasionalitas kebenaran menurt penulis adalah suatu yang sudah difikirkan secara matang, dilandasi oleh informasi yang akurat dan objektif sesuai dengan hati, kejujuran, dan keadaan yang benar atau apa adanya.

Nilai Prinsip Ekonomi Syariah

Ekonomi Islam adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami. Yang dimaksud dengan cara-cara Islami disini adalah cara-cara yang didasarkan atas ajaran agama Islam, yakni berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi.[6]

Islam memangdang ilmu pengetahuan merupakan suatu cara yang sistematis untuk menyelesaikan masalah kehidupan manusia yang mendasarkan segala aspek tujuan (ontologis), metode penurunan kebenaran ilmiah (epistemologis), dan nilai-nilai (aksiologis) yang terkandung pada ajaran agama Islam. Secara singkat, ekonomi Islam dimaksudkan untuk mempelajari suatu upaya yang dilakukan manusia untuk mencapai Fallah dengan sumber daya yang ada melalui mekanisme pertukaran. Penurunan kebenaran atau hukum dalam ekonomi Islam didasarkan pada kebenaran deduktif wahyu Ilahi (ayat qauliyah) yang didukung oleh kebenaran induktif-empiris (ayat kauniyah). Ekonomi Islam juga terikat oleh nilai-nilai yang diturunkan dari ajaran Islam itu sendiri.[7]

Menurut M. Umar Chapra secara garis besar prinsip-prinsip ekonomi Islam sebagai berikut :

  • Prinsip Tauhid (Keesaan Tuhan)

Prinsip ketauhidan dalam ekonomi Islam sangatlah esensial, dikarenakan prinsip ini mengajarkan kepada setiap manusia agar dalam hubungan sesama manusia sama pentingnya dengan hubungan kepada Allah. Maksudnya adalah dalam melakukan tindakan ekonominya harus berdasarkan pada keadilan sosial yang bersumber pada Al-Quran dan Sunnah. Ekonomi dalam Islam dipergunakan untuk bekal beribadah kepada Allah. Dengan kata lain, tujuan dari suatu usaha tidak semata-mata hanya mencari keuntungan atau kepuasan materi dan kepentingan diri sendiri, tetapi kepuasan spiritual yang berkaitan erat dengan kepuasan sosial atau masyarakat luas. Dengan demikian yang menjadi landasan dalam ekonomi Islam adalah tauhid ilahiyyah.

  • Prinsip Perwakilan (Khilafah)

Manusia adalah Khilafah (wakil) Tuhan di muka bumi. Manusia telah dibekali dengan semua karakteristik mental dan spiritual serta materi untuk memungkinkan hidup dan mengemban misinya secara efektif. 

  • Prinsip keadilan (‘Adalah)

Keadilan merupakan suatu prinsip yang penting dalam mekanisme perekonomian Islam. Berskap adil dalam ekonomi tidak hanya didasarkan pada ayat-ayat Al Qur’an atau Sunnah Rasul, tapi juga berdasarkan pada pertimbangan hukum alam, alam diciptakan berdasarkan atas prinsip keseimbangan dan keadilan. Adil dalam ekonomi bisa diterapkan dalam penentuan harga, kualitas produksi, perlakuan terhadap para pekerja, dan dampak yang timbul dari berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan.

  •    Prinsip Tazkiyah

Tazkiyah berarti penyucian (purification). Dalam konteks pembangunan, proses ini mutlak diperlukan sebelum manusia diserahi tugas sebagai agen of development. Jikalau proses ini dapat terlaksana dengan baik, apapun pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh manusia tidak akan berakibat kecuali dengan kebaikan bagi diri sendiri , masyarakat dan lingkungan.

  • Prinsip al- Falah

Al-Falah adalah konsep tentang sukses dalam Islam. Dalam konsep ini apapun jenisnya keberhasilan yang dicapai selama didunia akan memberikan konstribusi untuk keberhasilan diakhirat kelak selama dalam keberhasilan ini dicapai dengan petunjuk Allah. Oleh karena itu, dalam kacamata Islam tidak ada dikotomi antara usaha-usaha untuk pembangunan didunia (baik ekonomi maupun sektor lainnya), dengan persiapan untuk kehidupan diakhirat nanti.[8]


[1] Muhammad Ngasifudin, Rasionalitas dalam Ekonomi Islam, Jurnal Ekonomi Syariah Indonesia, Volume VII, No. 2, h.111

[2] Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h. v

[3] Rahmat Hidayat, Rasionalitas: Overview terhadap Pemikiran dalam 50 Tahun Terakhir, Buletin Psikologi, Vol. 24, No. 2, h. 103

[4] Ibid.,

[5] Ahmad Atabik, Teori Kebenaran Perspektif Filsafat Ilmu: Sebuah Kerangka Untuk Memahami Konstruksi Pengetahuan Agama, Fikrah, Vol. 2, No. 1, Juni 2014, h. 257

[6] Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Universitas Islam Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2005), h.17

[7] Ibid.,

[8] Veithzai Rivai dan Andi Bukhari, Islamic Economic, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h.20-21

Tinggalkan Balasan